Oknum Polisi PP Lakukan Kekerasan Seksual Saat Penertiban Pedagang

SALAH satu petugas Satuan (Satpol PP) Kota Surabaya dilaporkan ke atas dugaan terhadap seorang perempuan yang merupakan di Kutisari, Surabaya.

Pengacara korban dari LBH Surabaya, Achmad Roni, mengatakan peristiwa itu terjadi ketika Satpol PP melakukan penertiban di Pasar Krempyeng atau Pasar Tumpah di Jalan Kutisari Selatan V, Rabu 13 Maret 2024.

“Kejadiannya Rabu tanggal 13 Maret 2024, saat penertiban dari Satpol PP Surabaya, dilakukan di Pasar Kutisari,” kata Roni, Kamis 21 Maret 2024.

Penertiban itu sendiri terjadi karena sejumlah pedagang menolak direlokasi ke tempat baru yang sudah disediakan. Polemik itu sudah berlangsung sejak Januari 2024.

Baca Juga:  Buruh Bakal Mogok Nasional Bila Tak Dikabulkan UMP 2024 Naik 15 Persen

Sebagian pedagang merasa omzet mereka menurun drastis sejak dipindah ke lokasi baru. Polemik Pasar Kutisari ini juga sempat dibahas di rapat hearing di DPRD Surabaya.

Karena tak ada solusi, sebagian pedang kembali berjualan di lokasi yang lama, yakni di Jalan Kutisari Selatan V.

Rabu 13 Maret 2024, petugas puluhan Satpol PP pun mendatangi Pasar Krempyeng itu. Mereka melakukan penertiban dengan memaksa mengangkut barang-barang dagangan milik pedagang.

“Di hari itu tidak tahu kenapa sampai ada penertiban yang ekstrem, dalam arti barang pedagang itu diangkuti, otomatis orang-orang mempertahankan barang dagangannya,” ucap dia.

Suasana pun jadi tak terkendali. Saat hendak menertibkan, Roni menyebut salah satu petugas Satpol PP Kota Surabaya diduga merangkul perempuan pedagang itu dari belakang sambil memegang organ intimnya.

“Pas mempertahankan barang dagangannya itu ada oknum Satpol PP [laki-laki] kemudian merangkul dari belakang dengan mengenai bagian intim dari salah satu pedagang perempuan,” katanya.

Saat mengalami perlakuan itu, korban sempat histeris. Bagian intimnya pun disebut merasakan sakit. Namun, mau tak mau dia harus mengemasi barang dagangannya.

Akibat aksi petugas Satpol PP itu, korban kini mengalami trauma. Ia sempat ketakutan dan tak berjualan selama beberapa hari.

Karena itu, dengan didampingi LBH Surabaya, korban melaporkan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan salah satu petugas Satpol PP Surabaya tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda .

Dalam laporan itu, kata Roni, pihaknya melaporkan terduga dengan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 12 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Mereka juga sudah membawa sejumlah alat bukti.

“Selasa 19 Maret 2024 itu kita sudah melakukan pelaporan ke SPKT Polda Jatim, dengan membawa bukti permulaan itu video,” ucapnya.

Laporan mereka pun telah diterima oleh Polda Jatim dengan nomor LP/B/156/III/2024/SPKT/POLDA JAWA TIMUR. Korban dan pihaknya pun berharap bisa dengan cepat mengusut kekerasan seksual ini.

Saat mengonfirmasi dugaan ini ke Kepala Satpol PP Surabaya M Fikser. Namun yang bersangkutan belum memberikan respons. CNNindonesiacom

Pos terkait